SALDO REKENING CUKUP, KENAPA ENGGAN BERQURBAN?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Allohu Akbar.. Allohu Akbar walillahil hamdu
Suasana sejuk meliputi halaman parkir depan Plaza Marina Surabaya yang pagi itu diadakan salat Idul Adha pada hari Rabu, 27 Mei 2026. Guyuran hujan semalam tidak mempengaruhi antusiasme ratusan jama’ah yang tidak hanya dihadiri oleh warga yang Margorejo dan sekitarnya bahkan ada yang dari sutorejo, kenjeran, gayungan dll.

Dalam khutbahnya H. Chulil Barory, SE. MM. yang juga sebagai Ketua STEBI Sidogiri Pasuruan ini menyampaikan dengan semangat menggugah para jama’ah untuk menanamkan nilai-nilai yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim AS. Ada dua hal utama yang disampaikan yaitu tentang pentingnya mengokohkan tauhid dan esensi berqurban.

1. Mengokohkan Tauhid
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. (Annisa : 36)
Tauhid merupakan intisari dari ajaran agama Islam yaitu Menyembah Alloh dan tidak menyekutukanNya, sifatnya wajib dan harus di dahulukan sebelum menjalankan rukun Islam yang lainnya. Di dalam bulan Dzulhijjah yang merupakan salah satu dari 4 bulan yang Allah muliakan tentunya waktu yang tepat untuk meletakkan kembali pondasi-pondasi tauhid dalam diri seorang hamba yang mungkin di tahun-tahun sebelumnya pernah tercabik dengan bwrbuat kemusyrikan, misalnya dengan mempercayai bulan dzulqa’dah atau bulan Selo dalam keyakinan orang Jawa yang tidak mau melakukan kegiatan atau punya gawe besar di dalamnya karena pamali takut ini dan itu. Padahal bulan Selo itu dinamakan bulan dzulqa’dah dalam kalender Hijriyah adalah bulan di mana ada istirahat di situ setelah Romadhon Syawal kemudian dzulqo’dah artinya istirahat untuk persiapan pelaksanaan ibadah haji yaitu di bulan Dzulhijjah yang artinya bulan pelaksanaan ibadah haji, keyakinan tersebut termasuk faktor-faktor yang bisa mengurangi kemurnian tauhid kita kepada Allah SWT.

2. Esensi Berqurban
Berqurban merupakan sarana mendekatnya seorang hamba pada sang penciptanya. Terkadang kita pernah mendengar orang berkata berqurban Cukup Sekali Saja seumur hidup padahal itu merupakan pendapat yang keliru, firman Allah di surah al-kautsar ayat ke 2,
Kalimat “Fasholli lirobbika wanhar”
(فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ)
Artinya adalah: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”

Dalam kajian tafsir diartikan salat Idul Adha sehingga kalau salat Idul Adha saja dilakukan setiap tahun maka berqurban juga dilakukan setiap tahun setelah melaksanakan salat Idul Adha dan di hari tasyrik, karena nikmat Allah tidak berhenti hanya setahun saja tapi sepanjang tahun nikmat Allah begitu luar biasa menjamin kehidupan kita sampai dengan detik ini, maka kalau di runtut lebih dalam jika ada seseorang yang melihat saldo tabungan di rekeningnya maka kebanyakan diantara kita saya yakin itu di atas 3,5 juta, artinya niat dan kemampuan untuk berkorban itu sebetulnya bisa diupayakan tetapi kenapa enggan untuk berqurban? jawabnya yaitu karena berqurban itu berat karena syaiton senantiasa menggoda anak cucu Adam agar dirinya tidak semakin dekat kepada Allah, padahal dengan kurban itu artinya mendekatkan diri seorang hamba kepada Sang khaliknya oleh karenanya walaupun di rekening banyak duitnya tetapi dia tidak mau berkorban.

Dalam akhir khotbahnya Ustadz Chulil berwasiat pentingnya memperhatikan bekal kehidupan akhirat dan berbekallah kalian maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Taqwa,

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ
Artinya :…Dan Berbekallah, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa (Al Baqoroh:197)

Maka jangan tertipu dengan kehidupan dunia yang sementara ini karena yang kita miliki saat ini akan berakhir ketika kita diwafatkan oleh Allah harta kita berpindah kepada ahli waris kita bahkan kepada orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kita sekalipun, maka dengan berqurban nilai taqwa kita sampai kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan itu bisa menjadi bekal kelak kita di akhirat. //chulil

Previous slide
Next slide

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *